Kompol Ocha, Polwan yang rela jalan kaki 3 hari demi ungkap 114,5 ton ladang ganja

Tue Mar 16 2021 14:02:33 GMT+0700 (WIB), by WebTVAsia Indonesia
Kompol Ocha, Polwan yang rela jalan kaki 3 hari demi ungkap 114,5 ton ladang ganja

 

Kompol Rosana Albertina Laborar atau yang akrab disapa Kompol Ocha menjadi perhatian publik ketika ikut dalam perjalanan ke ladang ganja di Desa Banjar Lancat, Penyabungan Timur, Mandailing Natal, Sumatera Utara pada Kamis (25/2/2021) lalu.

 

Pasalnya, ia menjadi satu-satunya polisi wanita (polwan) yang ikut berperan membongkar kasus ladang ganja seluas 12 hektare di Mandailing Natal, Sumatera Utara. Wanita yang akrab disapa Ocha ini mengaku tidak memiliki persiapan khusus sebelum menuju ke ladang ganja. Semua serba dadakan karena dua hari sebelum keberangkatan menuju ladang ganja ia baru dapat informasi pemilik ladang ditangkap.

 

Ia ikut tanpa paksaan dari pimpinan, Kompol Ocha sendiri mengaku malah mengajukan diri ikut dalam tim menyelidiki kasus ini hingga ke Sumut dan menemukan ladang ganja.

 

"Ini kan dadakan, jadi ketika satu hari sebelumnya itu tersangka ditangkap, kemudian besoknya itu tim berangkat ke sana dan betul ada ladang ganja itu dan besoknya baru kami naik. Jadi nggak ada persiapan sama sekali," ungkap Kompol Ocha.

 

Untuk sampai di lokasi ladang, wanita yang akrab disapa Ocha ini harus melalui perjalanan selama tiga hari. Ocha mengaku perjalanan ke ladang ganja ini tidaklah mudah. Butuh kesiapan fisik dan mental untuk terjun langsung ke lokasi. Apalagi cuaca kurang mendukung saat itu.

 

"Memang sangat sulit dijangkau untuk sampai ke ladang ganja apalagi saya yang seorang perempuan. Perjalanan kaki yang lumayan jauh, kemudian situasinya cukup terjal. Untuk naik saja kita harus merayap, saat turun situasi cuaca nggak bagus, mulai hujan, becek dan licin juga kita harus merosot beberapa kali," kata Kompol Ocha.

 

Saat di perjalanan, Ocha dan tim sempat menghadapi kendala. Salah satunya ialah gardan mobil yang dia tumpangi pecah sehingga dia harus jalan kaki selama 3 km karena mobil yang dia naiki ialah mobil terakhir dalam rombongan.

 

"Gardannya pecah, kemudian kita harus jalan kaki kurang-lebih 3 km jalan kaki karena mobil itu yang terakhir. Jadi yang di depan tidak monitoring bahwa mobil kami itu mogok, kan," ungkapnya

 

Akibat tidak ada alat komunikasi lantaran sinyal telepon seluler hilang total, Ocha dan beberapa orang di mobil itu harus berjalan kaki membawa logistik atau persediaan untuk menaiki bukit ladang ganja.

 

Tapi kata dia, kendala itu bukan menjadi penghalang dirinya untuk menunda naik ke atas bukit ladang ganja.

 

Setibanya di bukit ladang ganja, Kompol Ocha begitu lega dan langsung mencabuti batang pohon dan membabatnya dengan arit untuk dimusnahkan.

 

"Sampainya di atas saya senang, karena saya bisa melewati rintangan menuju ladang ganja. Jadi motivasi saya itu yang pertama, karena kalau ungkap sabu kan sudah, ungkap ganja sintetis itu sampe ke pabriknya juga sudah, penyuplai semua sudah ibaratnya mengungkap sampe ke akar-akarnya udah," terang Ocha.

 

Menurutnya, ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan baginya.

 

"Tentunya ini menjadi contoh kepada satuan lainnya misalnya polres mana atau polda mana bahwa kita harus mampu mengungkap kasus sampai akar-akarnya. Jika menemukan tindak pidana narkoba dalam bentuk apa pun, harus memotivasi diri untuk mengungkap sampai akar-akarnya, sampai ke ladang ganja. Yakin pasti bisa," tutupnya.


Share Your Comments



Contact Us

Ola.id