Memilih Profesi Sebagai Travel Writer, Mengapa Tidak?

Wed Aug 29 2018 23:51:56 GMT+0700 (WIB), by Tommy Utomo
Memilih Profesi Sebagai Travel Writer, Mengapa Tidak?

Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

 

WebTVAsia.id - Viral People, bagi kids zaman now, profesi idaman bukan lagi sebatas menjadi dokter atau begelar insinyur. Melainkan menjadi YouTuber atau blogger. Dua profesi yang bukan hanya menawarkan popularitas, tapi juga penghasilan yang lumayan. 

 

Tak sedikit blogger yang memilih profesi sebagai travel writer, bertualang ke berbagai tempat di Indonesia dan mancanegara dan melaporkan catatan perjalanannya secara menarik melalui blog mereka. 

 

Raden Yudasmoro Minasiani misalnya, rela meninggalkan pekerjaan yang digelutinya selama delapan tahun sebagai manajer sebuah restoran cepat saji, dan banting setir menjadi freelance travel writer.

 

"Saya sendiri heran, kenapa ya, kok sekarang seolah-olah travel writer menjadi booming dan menjelma jadi sesuatu yang diidam-idamkan? Apa mungkin karena faktor travelingnya? Beberapa situs di luar negeri bahkan sudah melegalisasi travel writer sebagai the best job in the world," kata Yudasmoro melalui buku 'Travel Writer' yang diterbitkan Metagraph.

 

"Menjadi travel writer berarti memadukan tiga hal mendasar: menangkap peristiwa unik selama dalam perjalanan, kemampuan menulis, serta menangkap momen-momen spesial dengan kamera," lanjutnya.

 

Ia menambahkan, travel writer sungguhan dalam arti seorang penulis, jurnalis, dan fotografer yang mampu mendedikasikan kemampuannya untuk mengungkap cerita-cerita tentang esensi sebuah perjalanan. 

 

Agar cerita-cerita tentang perjalanan dapat dibaca oleh khalayak luas, travel writer dapat menuangkannya dalam bentuk artikel di media massa, media sosial bahkan blog pribadi. 

 

Nah, blog travel pribadi banyak digunakan oleh travel writer karena berbagai keuntungan. Mulai dari endorsement, menjadi e-commerce, hingga monetisasi jaringan iklan AdSense. 

 

Lalu bagaimana kriteria blog travel yang disukai oleh pembaca dan pelaku bisnis yang ingin bekerjasama? Yudasmoro memberikan beberapa tips agar blog travel disukai. 

 

"Dari banyak pandangan yang saya terima, sebuah blog travel akan lebih disukai karena tulisan yang tidak terlalu panjang, foto menarik, album foto bukan alat pamer diri, tampilan yang wajar, bahasa menarik dan konten yang menarik," katanya. 

 

"Terkadang, powerful blog justru muncul dari sebuah blog yang sangat sederhana," Yudasmoro mengingatkan.

 

Meskipun terlihat mengasyikkan, Yudasmoro mengingatkan bahwa profesi travel juga memiliki resiko. Ia bahkan menyebutnya sebagai 'high risk'.

 

"Travel writer tak sepenuhnya merupakan sosok pengembara bebas yang menggendong ransel besar dengan bercelana kargo seperti yang sering ditampilkan dalam iklan-iklan di TV. Profesi ini tetap memiliki resiko yang sama dengan profesi lainnya. Rasa bosan, jenuh, stress juga akan kamu alami. Kamu akan merasakan bagaimana perasaan kamu saat harus bekerja dibawah tekanan deadline," kata Yudasmoro mengakhiri.



Share Your Comments



Contact Us

Ola.id